Minggu, 28 April 2013

Yang Terkenang Hari ini: Chairil Anwar dan Sebaris Pesannya

Hari ini tepat 64 tahun meninggalnya Chairil Anwar, kalaulah masih hidup berarti ia kini berusia 91 tahun, aku teringat kata-kata yang dikirimkannya kepada HB. Jassin, di suatu sore pada tanggal 11 Maret 1944, tulisnya: "Mesti ada yang memulai, bukan(?)."


teringat pula aku pada baris-baris puisinya

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942, Chairil Anwar memberi judul puisinya ini Nisan
yang didedikasikan "untuk nenekanda"-nya. Aku pun turut berduka cita
atas berpulangnya salah satu dai di negeri ini, Ustad Uje, juga bagi seluruh yang
telah mendahului kita. Semoga
diterima di sisiNya, dan kita rida atas kepastianNya tersebut. Bahwa
Ajal pasti tiba...

Sabtu, 27 April 2013

Dijelang Malam Mengada

dijelang malam mengada
terompet perang di atas ranjangnya
bagaimana cahaya ke luar
dalam mimpi gelap berduri
kesungguhan menyulut nyali
awanan lengang
dari bakaran kemenyan
anjing kliwon mempermainkan

Siapa yang Dapat Menduga

siapa yang dapat menduga
ternyata setiap pasang mata
tak semua sama nyala jaga bersama
di langit isi hati mengada
menjaringnya ikan pada telaga
matari mengeluarkan kilau
cahaya di raga yang embun

Ada yang Tanpa Jalan...

Ada yang tanpa jalan, apakah itu dapat disebut kebenaran?

Malam Wangi Pandan

Terbangun oleh suara, induk ayam yang meronta. Lebih tepatnya seperti suara teriakan minta tolong. Dan tak lama aroma pandan pun mengisi seluruh sudut-sudut rumah. Bangun, buka pintu menuju belakang, nyatalah, beberapa anak ayam hilang, sang induk tak bisa berbuat banyak. Ternyata ada careuh, sejenis musang. Mengagetkan. Dikira pencuri ayam, tetapi perburuan si Musang yang berhasil menerkam 3 ekor anak ayam, hanya menyisakan tiga lagi, tragedi yang cukup menyedihkan, namun itulah kehidupan mereka. Kembali masuk, dan sepertinya tidak bisa tidur lagi. -________-"

Untunglah ada beberapa buku pinjaman yang belum sempat dibaca, coba dibaca saja mumpung lagi ada waktu juga, daripada meratapi kepergian 3 ekor anak ayam itu, keberlalutan dalam kesedihan nggak ada gunanya, hanya menyakitkan. 

Selasa, 23 April 2013

Kata Seorang Teman...

Memiliki teman itu menyenangkan, terkadang, walaupun saya kurang suka dinasehati secara jor-joran, apa yang dikatakan mereka kadang penuh pengajaran yang luhur, misalnya sore itu, kata seorang teman kepada saya, "Jangan asal percaya-percaya saja, kecuali kamu lembu!"

Dermaga yang Hidup...

dermaga yang hidup memang menyenangkan
selalu ada kapal yang membawa datang
maupun membawa pulang...

Kalau Merangkak Harus...

kalau merangkak harus sabar, semua makhluk merangkak
menuju tingkat kesabarannya masing-masing...

Duhai Debu yang Dipagut Angin

adakah serpihan jiwa
hanyalah semusim laluan angin

...

Pikir Rasa

aku berpikir, aku merasa?
siapakah yang mewujudkannya?

Minggu, 17 Maret 2013

Pesan di Ranjang Pesakitan

Tersiar sebuah kisah, "Pemuda ini mengalami lumpuh total--semoga Allah menyelamatkan kita--setelah kecelakaan menimpanya. Dia menjadi tawanan ranjang di sebuah rumah sakit selama beberapa tahun. Tetapi baginya, ranjang itu tidaklah menawankan, tetapi tengah memeluknya, mendampingi dengan setia menuju jalan cahaya. Setiap orang yang menjenguknya merasa kagum dengan cita-citanya yang luhur dan semangatnya terhadap agama. Sehingga banyak orang yang masuk Islam di tangannya, baik kalangan dokter maupun pekerja di rumah sakit tersebut, laki-laki dan perempuan. Di bawah ranjangnya, tersimpan berkarton-karton buku dan kaset berisikan ilmu dari pelbagai macam bahasa. Setiap orang yang datang kepadanya, dia selalu mengeluarkan buku untuk dibaca oleh penjenguknya dan kaset untuk didengarkan. Pemuda ini memang sudah tak bisa bergerak, tetapi dalam kelumpuhannya, dia memberikan pesan yang luar biasa, semangat hidup demi kebaikan bersama. Dan ketika ia meninggal dunia, semua tahu bahwa itulah yang dinanti-nantikannya, kebahagiaan di ranjang janah."

Cerita di atas dinukil dari Qashash Adzhaltani, yang disusun oleh Abdurrahman Bakar. Selepas membaca itu, saya jadi ingat pula dengan salah satu komedian dan mantan presenter sebuah kuis yang dulu termasuk yang saya tonton, Ferrasta Soebardi namanya, atau awam lebih mengenalnya dengan sebutan Pepeng. Belakangan  Pepeng hanya mampu tertidur di ranjangnya, tetapi tak pernah berhenti untuk tetap menulis, dan menghibur siapa saja. Dari tempat tidurnya, yang bersangkutan benar-benar menorehkan pesan, bahwa kehidupan apa pun kondisinya harus disyukuri, dan selama ajal belum tiba, manusia masih bisa berbuat yang maslahat, selama dia berniat dan bersungguh untuk hal itu. Tentu saja, selain dari dukungan keluarga tentunya. Well, semoga kita diberikan kesehatan, dan kemudahan untuk berbuat lebih, melebihi mereka yang sebenarnya dalam kondisi yang tidak mudah. Amin. 

Kamis, 14 Maret 2013

Benar, Kant?

tanpa kau kant, aku akan tetap kanak-kanak, kant?
mengerihkan!

Pancasila dan Kita dalam Masa Global Multikultural

lomba blog pusaka indonesia 2013
“Manusia Indonesia” seharusnya adalah “Manusia Pancasila.” Tentu saja, ketika kita mendengar term “Manusia Indonesia” itu, jadi teringat dengan apa yang pernah dikatakan Mochtar Lubis—sastrawan terkemuka Indonesia—terkait karakter “Manusia Indonesia” itu, yang kecenderungannya sangat tidak menyenangkan, bahwa manusia Indonesia itu hipokrit, percaya takhayul di mana lebih mengutamakan mitos daripada logos, dan lainnya. Maka saya gunakan tanda kutip, untuk mengacu pada term “orang Indonesia asli.” 

Dan “Manusia Pancasila” di sini bukan berarti terkait partai-partai yang mengatasnamakan Pancasila sehingga apa yang ada di dalamnya adalah mereka yang “Pancasilais.” Di negeri ini, banyak partai yang gembar-gembor soal Pancasila dan mengaku “golongan” Pancasilais, tetapi tidak merepresentasikan nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri. Sebelum beranjak kepada apa yang dimaksud dengan “Pancasila dan Kita dalam Masa Global Multikultural” perlu kiranya kita mengetahui empat pokoknya itu, yakni “Pancasila”, “Kita”, “Masa Global” dan “Multikultural.” Karena keempatnya saling terkait dan memiliki konsekuensi masing-masing. 

“Pancasila” di sini jika ditinjau secara tidak formal, maka semisal kumpulan nilai dari apa yang memang sudah ada pada orang-orang Indonesia sejak masa pra-proklamasi, menjadi sesuatu yang sudah mendarah daging berupa kebudayaan yang mendasar. Secara formal, lahirnya Pancasila dijadikan dasar negara yang paling fundamental serta berfungsi sebagai pandangan hidup dalam berbangsa dan melaksanakan pemerintahan. Dan terbentuknya kelima sila yang sekarang kita kenal itu tidaklah mudah, banyak tahapan yang harus dilalui, serta melalui beberapa perubahan yang kesemuanya itu demi satu kata “toleransi.” 

Lalu “Kita” di sini mengacu pada warga negara, yakni saya dan Anda, di mana term tersebut juga merujuk kepada kondisi—dalam yang semestinya—kebersamaan yang harmonis penuh nuansa keakraban, persaudaraan. 

Kemudian, “Masa Global” ialah keadaan di mana ruang dan waktu yang sebenarnya memang terbatas, tetapi dengan adanya kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan ilmiah serta kesepakatan-kesepakatan antar-negara di dunia untuk saling menghilangkan tembok-tembok pembatas yang cenderung mengkuduskan ekslusifisme, yang sebenarnya bagian dari tipu daya besar kapitalistik. “Masa Global” yang saya sebutkan itu, barangkali lebih kita kenal dengan istilah “globalisasi.” 

Lantas “Multikultural,” merupakan situasi yang menyifatkan keberagaman budaya. Indonesia menjadi contoh nyata dari negara multikultural, karena sebagai negara yang terdiri dari pelbagai suku-bangsa membuat kemajemukan sebagai keniscayaan. Di mana itu bisa dilihat sebagai kekayaan khazanah, tetapi di sisi lain menjadi sesuatu yang amat sensitif. 

Demikianlah secara umum keempat pokok itu, yang mana memang saling terkait. Indonesia, sebagai negara berkembang, tentu harus memiliki dasar yang kuat untuk tetap seperti pohon. Di mana ketetapannya bukan karena tidak bergerak, tetapi kekokohan, yang mana juga tumbuh berkembang, merimbun hijau dedaunannya, serta buahnya. 

Tetapi di masa global serta kenyataan dari multikulturalnya negara kita ini, pelbagai ancaman dan tantangan nggak hanya muncul dari luar atau pihak asing, tetapi juga bisa dari dalam. Hal-hal itu, berupa permasalahan-permasalahan aktual terkait SARA, HAM, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Hampir di setiap negara, pasti mengalami persoalan tersebut, dan nyaris semua menyelesaikan dengan falsafah negaranya masing-masing, walaupun ada beberapa negara yang lebih memilih untuk memakai konsep yang digunakan negara lain, sedangkan bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki falsafahnya sendiri yakni Pancasila. 

Namun, pemikiran dan pelaksanaan dari Pancasila jelas dinamis, bukan tidak mungkin dilakukan reformasi terhadap pemikiran dan pelaksanaan dari Pancasila itu sendiri, mengingat yang namanya permasalahan itu penuh kompleksitas, di mana antara masa sekarang dengan masa dahulu jelaslah beda. Benarlah apa yang sering dikatakan oleh sebagian pendidik, didiklah generasi sesuai zamannya. Penyesuaian memang diperlukan. Kita tidak bisa menutup diri, dan memang masa global dan multikulturalnya bangsa ini sebuah keniscayaan yang nggak bisa dipungkiri, apalagi ditampik kebenarannya. 

Realitas yang ada, tak selaiknya dihindari, tetapi harus didekati dengan sudut pandang Pancasila yang memang sesuai bagi kita sebagai bangsa yang multikultural yang nggak menutup diri dari masa global. Pertanyaannya memang, mau atau tidak kita kembali kepada Pancasila sebagai perada bagi kita untuk berfilsafat atas segala permasalahan yang tampak kepermukaan. Dan itu tentu saja bisa dimulai dari diri kita masing-masing, sebagai pelakon dari konsepsi tersebut yang bagian dari multibudaya, yang juga terikat masa global. Saya kira, bila kita menegakkan Pancasila pada hati-hati kita, tak sekadar dihapal, maka lambat laun akan benar-benar tegak di bumi Indonesia. Di situlah dituntut pula kesadaran dari pentingnya peran serta pemikiran dari warga negara sebagai bagian dari yang “percaya” pada kekuatan yang terkandung dari filosofi yang tersarikan dalam Pancasila. Contoh kecil saja, sila pertama tentang ketuhanan, maka sebenarnya kita diposisikan menjadi manusia yang beriman tanpa menuhankan material, misalnya uang. Yang ada sekarang ini ialah, materialisme dan kapitalistik menjadikan kita mudah menuhankan sesuatu yang sejatinya fana. Itulah kesesatan, dan Pancasila menganjurkan sesuatu kebijakan yang penuh kebaikan, kebertuhanan yang maha esa. Demikianlah, musuh nyata ialah kapitalistik yang menjurus pada matrealistik, siapa saja yang menjadi budak kedua “Tu(h)an” itu maka jangan harap bisa menjadikan Indonesia semakin jaya, sebab ia akan menjadi manusia yang mementingkan diri sendiri, hanya berpikir tentang bakul nasinya sendiri. 

Semoga kita bisa memandang positif keberagaman budaya yang ada, dan tetap bersikap terbuka tapi selektif dalam arus globalisasi yang makin menjadi, dengan langkah kita yang menyelaraskan kembali, fungsi dan kedudukan Pancasila dalam pemikiran dan pelaksanaan perikehidupan berbangsa dan bernegaranya kita di negeri ini, sebagai wujud nyata dari manusia yang berpikir dan beradab. []

Jika Memiliki Pengetahuan Itu...

jika memiliki pengetahuan janganlah diiringin dengan keangkuhan yang tegak bagai seekor gajah, 
apa guna daya ingat, bila memandang yang lain adalah semut yang tidak berdaya kalau diinjak?!

Apa Ada, Lantas Apa...

Apa Ada yang Segalanya, Lantas Apa yang Segalanya Itu...

Satu Hal yang Tetap dan Tak Menguap


YANG di atas adalah foto diri saya, foto itu diambil kala saya duduk di kelas satu sekolah dasar, pada saat itu, saya datang ke sekolah sendiri dengan berjalan kaki, jaraknya lumayan jauh, sedangkan yang lainnya pada diantar oleh orang tua, mungkin karena keinginan bersekolah datang dari diri sendiri, walaupun nggak masuk taman kanak-kanak dulu, jadi bener-benar tanpa bekal intelek gitu dah. Hanya bekal percaya diri, dan ingin seperti mereka yang setiap pagi saya lihat lewat depan rumah.

DAN yang di bawah ini adalah foto saya teranyar, nggak terupdate banget sih, sekitar bulan februari tahun ini. Foto ini saya jepret sendiri, mengingat saya nggak pernah percaya diri kalau difoto oleh orang lain. Saya ambil foto ini dalam posisi tiduran, di tempat tidur.


LALU, apa satu hal yang tetap dan tak menguap itu? TAHI LALAT di bibir bagian atas. Ini barangkali yang bikin teman-teman saya sedari SD, walaupun lama nggak ketemu, tapi kalau papasan pasti mengenali saya, tetapi hampir selalu saya nggak mengenali mereka, atau setidaknya saya perlu waktu beberapa lama untuk berpikir, mengingat-ingat. Hehehe

Saya pernah kepikiran untuk membuang tahi lalat itu, waktu itu yang terpikir kalau nggak operasi ya secara sadistis menyileti. Saya dapat ide terakhir itu, karena ada juga di kampung saya yang menghilangkan tahi lalatnya dengan tangan sendiri, dengan gaya-gaya memutilasi gitu. Tapi, kedua hal itu urung saya lakukan, saya terima saja ini sebagai karunia Tuhan, walaupun jatuhnya saya selalu dianggap cerewet, dan suka ngomongin orang karena ada tahi lalat di bibir, belum lagi saya laki-laki, makin jatuh sajalah. Hehehe


Kalau kata orang sih, postur badan saya yang kurus juga nggak banyak beda antara dulu dan sekarang. Hanya dari warna kulit saja yang lebih gelap dibandingkan dulu, yang saya akui sendiri memang putih. Itu jadi beban juga, soalnya, waktu itu sempat ada yang bilang, "Kulit lu putih amat kayak cewek aja!" Oh my goodness, rasanya tuh! Grrrggghhhhh! Namun pada akhirnya, memang pasti ada berubah atau setidaknya mengalami pergeseran, tak hanya masalah badani, juga ukhrawi... juga ada yang tetap, semoga itu hal-hal yang membawa manfaat.

WELL, ngapain tiba-tiba saya malah posting kayak begini, kebetulan beberapa hari lalu buka grup warung blogger di facebook terus ada postingan yang lagi ngadain GiveAway gitu. Nah, di bagian akhir itu kan disyaratkan buat kritik atau saran terhadap blognya yang sudah genap berjaya empat tahunan ini. Sejujurnya, saya lupa-lupa ingat apakah pernah berkunjung ke blog itu dan berkomentar, karena memang sejak beberapa bulan terakhir jarang sekali blogwalking. Jadi, mau menulis apa ya terkait blognya dan empunya, hmmm... Karena ada banner KEB, Komunitas Emak2 Blogger. Maka, kemungkinan besar pemiliknya berusia lebih tua dari saya. Namanya, Yati Rachmat.

INTINYA sih, ini kabar baik, di mana perempuan dari pelbagai usia turut angkat bicara melalui tulisan lewat media maya blog khususnya, terkait kediriannya juga kedirian yang lain yang ada di sekitarnya. Saya salut, dan sudah seharusnya bagi siapa saja, saya misalnya, kalau memang ada kesempatan dan keluangan untuk menulis, ya menulislah. Karena itu pun berbagi... Akhirul kata, maaf kalau terlalu banyak kata yang ke luar *efek kangen ngeblog kali ya* hehehhe

Tetap semangat dalam ngeblog, ya, Bunda Yati Rachmat!



Kamis, 07 Februari 2013

Untuk yang Berjauhan

hal-hal yang disatukan perasaan
tak akan terpisahkan walaupun berlain rumah
jarak yang jauh, tetap di bumi satu
mungkin ruang dan tempat yang lain
semuanya berjalan di jembatan cinta
yang menghubungkan kepada tiba
di pintu hati kita
kembali, sering kali bisik angin utara
menyepoi telinga, katanya
"es yang belah akan bersatu
saat dicairkan kehangatan rahim..."
ingatlah kembali, kepada awal
maka pada jarak yang menyebab
mata tak melihat, tiada selalu gaib di sana
o, jalanilah lingkarannya

2013





Apa yang Harus Aku Lakukan, Tuhan?

the way it is by diane feissel
Jika saja hujan itu turun
Tak akan gurun di hatiku
Jika saja langit itu biru bening
Tak akan putus layang-layangku
Jika saja laut itu deru senja
Tak akan diam perahuku
Jika saja gunung itu api
Tak akan sepoi angin laluku

Tapi, semuanya semu
seperti kisah pengantar tidur
Namun hidup, siapa yang tahu
akan terbangun
di pagi yang baru
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?

2013


Rabu, 09 Januari 2013

Setelah Membaca Sebuah Puisi Karya Syabistari

siapa yang pernah mendapatkan
kesenangan tanpa penderitaan?

- Sa’duddin Mahmud Syabistari

Status kali ini dibuka dengan kutipan yang mempertanyakan tentang sebuah proses dari kehidupan di sini, di dunia ini, ya, tentang kehidupan saya dan Anda, kita sekalian. Kalau kita bicara proses atau usaha dalam menggapai apa yang ingin kita capai, baik itu terkait material maupun spiritual, maka tentu saja, pada asalnya, manusia memang enggan untuk berkeringat dulu, baik badaniahnya maupun akal pikirannya. Maka, seperti judul puisinya Sa'duddin Mahmud Syabistari, "Tak ada Kebahagiaan Sempurna di Sini", lalu di manakah kebahagiaan itu? Ya, kebahagiaan itu adalah di ujung dari penderitaan, kapakankah ujung penderitaan, saya menyitir apa yang diutarakan Muhammad Rasulullah jelang wafatnya kepada putrinya Fatimah, "setelah ini, tidak akan ada lagi penderitaan bagi ayahmu ini." Apakah akhirat menjadi tempat pembahagiaan segala umat? Ternyata tidak juga, di sana pun ada penderitaan. Namun ternyata, di balik pertanyaannya Sa'duddin Mahmud Syabistari itu rupanya mengingatkan kita kepada sebuah redaksi hadis, bahwa dunia adalah nerakanya orang beriman. Maka, penderitaan, yang berkata lain dari usaha atau proses yang jatuh bangun itu, adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan yang sempurna di sana, bukan di sini. Apakah benar rasa bahagia tak akan tercecap di alam fana ini? Jelas mampu terasakan, bila hati penuh keterbukaan, sebab ketertutupan dari hal-hal yang gaib itu hanya membuat radang dalam kehidupan. Entah mengapa, saya kok tiba-tiba menulis ini setelah membaca puisinya Syabistari itu...

Kabut

dengar kata suara
apa kata di laut


2013

Pernyataan Seorang Presenter yang Membikin Saya Berpikir

Presenter televisi itu bilang, barangkali kita memang terlampau senang dengan mitos-mitos, sampai abai terhadap logos. Sepertinya begitu, parahnya lagi, banyaknya mitos bukannya digubah dan diimitasi dengan konten yang berarti tetapi tetap memertahankan ketidakadaartiannya bagi perkembangan nalar. Era mitos yang saat ini tengah berjaya adalah imperium sinetron. Semoga segera runtuh. Amin.

Koin

Teman saya, Siti Khodijah Nasution bilang, dunia sastra kita kini hanya lahir, hanya bentuk, padahal dulu, misalnya Marah Rusli itu menulis bukan untuk menjadi novelis, tetapi apa yang dilahirkannya itu batin, kalbuis, berhati karena dari dan dengan hati. Saya jadi ingat apa yang diujarkan GM, katanya “Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.” Nah, dari itu mungkin benar, bahwa waktu itu adalah air, tirta yang akan membasuh nama seorang penulis menjadi tumbuh mulia dengan sendirinya, ibaratnya karya adalah biji benih. Tanpa harus adanya ambisi untuk menjadi seorang penulis, apalagi kalau ambisinya tersebut melimbur akal sehatnya sehingga memilih program "mengkarbitkan diri." Sialnya, beberapa pencerah telalu curiga dengan siklus regenerasi yang kadang lambat sedangkan waktu terasa cepat berlalu, dan massa yang kadang terlampau menuntut (baik dari dalam ataupun dari luar), akhirnya juga membuat dan menawarkan program memperkarbitkan diri.

Thank You 2012, Welcome 2013 [Usup Supriyadi]

Mari kita mulai dengan sebuah impian.

Masa lalu adalah sesuatu yang jauh namun pernah kita sentuh, saya pun merasakannya. Sedangkan masa depan adalah sesuatu yang penuh misteri, sebuah ruang pengajuan proposal di mana ada yang kita mintai persetujuannya, yang kita sertai doa-doa agar terlaksana sesuai dengan rencana. Sedangkan setiap awal tahun, galibnya kita pasti merencanakan sebuah impian yang akan kita gapai. Namun, tahun lalu juga seharusnya jadi refleksi dan menjadi sebuah bahan pertimbangan untuk ke depannya. Untuk itu, rasanya saya pun perlu melihat sejarah saya di tahun 2012 itu...

Di tahun yang digegarkan dengan isu kiamat itu, saya malah mendapati banyak pengalaman berharga yang bagi sebagian yang mengenal saya dianggap sebuah pencapaian dari sebuah impian, namun bagi saya semisal penanda bahwa dunia saya belum akan selesai. Padahal terus terang saja, saya termasuk yang jarang dengan sengaja membuat ancang-ancang impian-impian yang akan saya gapai dalam suatu tahun yang akan berselang. Akan tetapi, dalam beberapa hal, menentukkan sebuah impian dari rentang waktu tertentu itu adalah perlu. Hidup yang tidak dikritisi dengan apa yang akan kita lakukan beberapa waktu ke depan misalnya, sama saja dengan kesia-siaan. Nah, di tahun 2012 yang sudah berlalu belum lama itu, saya mendapati banyak kejutan unik, mulai dari terpilih di ajang-ajang menulis di dunia maya, dan dibukukan dalam antologi bersama, juga mendapat kesempatan menjadi juara favorit juga di ajang baca sastra di Yayasan Obor Indonesia yang bekerja sama dengan Rayakultura, yang padahal sebelumnya belum pernah ikut yang begituan. Dari situ, saya bertemu juga dengan beberapa sastrawan, misalnya Naning Pranoto, Riris K. Toha-Sarumpaet, Abdul Hadi WM, SCB dan lainnya. Suatu hal yang tidak terlintas sedikit pun. Hanya karena rasa ingin tahu dan mencobalah ternyata Tuhan tunjukkan jalan. Tidak hanya itu, beberapa puisi saya pun mendapat apresiasi, misalnya dari pengelola Blog GagasMedia. Sungguh, walaupun saya belum berkesempatan untuk meresensi setiap bentuk apresiasi yang dikirimnya, yang jelas saya membacanya, dan darinya banyak hal yang saya dapatkan. Dan itu tidak ternilai juga. Terima kasih buat GagasMedia!

Selain dari itu, yang membahagiakan di tahun 2012 adalah dipertemukannya saya dengan orang-orang yang membuat saya berkembang, khususnya dari segi pemikiran. Juga, munculnya beberapa tulisan saya di media cetak. Semuanya tanpa perencanaan, yang berkaitan dengan dunia kepenulisan tersebut. Dan saya bersyukur atas hal itu, hanya saja, namanya kehidupan juga ada yang mengecewakan bagi saya, sebuah penyesalan yang tidak boleh terulang. Dunia memang tidak hanya soal sakral, tetapi juga profan. Selebihnya, 2012 adalah anugerah.

Bagaimana dengan tahun 2013 ini?

Ah, lagi-lagi sulit bagi saya untuk menuliskan sebuah impian, walaupun hanya satu saja. Entahlah. Tetapi, sebagaimana pernyataan saya di muka, impian itu memang perlu sebagai motivasi dan barometer dalam melangkah ke depannya, maka saya berharap di tahun ini, saya bisa lebih mendalami menulis esai. Saya kadang ingin jadi esais. Tetapi juga ingin mencoba menulis cerpen, novel, ataupun puisi, hanya saja tidak terlalu berambisi menjadi cerpenis, novelis, apalagi penyair. Dalam beberapa hal, saya curiga dengan diri saya sendiri bahwa menjadi penulis itu tidak mudah, dan akan sulit bagi saya. Namun karena memang tidak mustahil itulah, sebagaimana apa yang saya alami di tahun 2012, saya percaya, impian-impian kecil akan menjadi besar dan tampak, bila disertai kesungguhan. Dan, tulisan ini salah satu bentuk awal mula dari menuju yang dituju itu, khususnya di dunia kepenulisan. Akhirul kata, mari kita mulai dengan sebuah impian, karena setiap saat harus memiliki kesan akan kesungguhan dalam menjalani roda kehidupan. Terima kasih 2012 yang anugerah itu, dan selamat datang 2013 yang adalah kesempatan dan peluang bagi kita sekalian!

Amin. Salam!

GagasMedia: http://gagasmedia.net
Bukune: http://bukune.com
Gammara Leather: http://gammaraleather.com



Jumat, 16 November 2012

Terlepas Sebelum Terusap: Kisah Kegelisahan Seorang Gembala Tuhan terhadap Domba-dombaNya

Terlepas Sebelum Terusap adalah sebuah roman karya R. Sukri Kaslan, yang mana itu pada penerbitan pertama kalinya ialah nama samaran dari Romo Rudolphus Kurris SJ, seorang rohaniawan Katolik, bekas Belanda, namun sudah menjadi warga Indonesia, sekarang sudah almarhum. Dulu, memang jarang seorang sepertinya mengarang roman yang ada nuansa percintaannya, jadilah menggunakan nama pena. Diterbitkan oleh Sinar Harapan cetakan pertama 1985, dan yang saya baca cetakan kedua tahun 1991. Buku ini ternyata tersimpan juga di katalog Yale University Library. Dan saya baru membacanya tahun 2012, hehe


Seperti dikatakan oleh Satyagraha Hoerip di bagian testimoni, yang katanya, sebuah cerita yang akan membikin pembaca merasa jijik. Benar saja, saya merasakan jijik dan mual. Tetapi bukannya tidak bagus, malah bagus sekali. Sangat membumi, dalam tataran penggunaan bahasanya. Sebuah roman yang kalau saya lihat dari sampulnya maka akan menipu, saya kira perempuanlah yang jadi tokoh utamanya, ternyata seorang laki-laki, seorang pastor, bernama Putrama. Dia ditempatkan di sebuah pastoran yang berada di perkampungan yang ada di pelabuhan. Tidak jelas penyebutan namanya, namun saya lihat dari penggambaran penceritaannya, kemungkinan besar itu lokasinya di Jakarta Utara, pasca awal-awal kemerdekaan.

Bab pertama langsung di buka dengan nuansa yang bikin pilu, di mana seorang tua buta mantan yang pernah berjaya masa Belanda, harus berkata kepada gadisnya agar bekerja sebegai pelacur; meski lembut saya merasakan kebiadabannya ketika berkata: "... berkat Tuhan uang tersembunyi dalam payudaramu yang putih ini."

Adalah Wiwik nama gadis itu, seorang anak yang dipungut hasil dari perzinaan seorang budak dengan tuannya. Entah dia pernah tahu atau belum soal itu. Menjelang remaja dan tekanan ekonomi, sampai ada yang bilang masih enak pada masa merah-putih-biru.

Dialog-dialognya memang penuh dengan bahasa prokem yang kasar, namun itu tepat dengan tokoh dan penokohan serta setting yang dikondisikan oleh si pengarang, jadi nggak ngaco, tetap logis. Diceritakan pula tentang begitu kejamnya penjara, namun setelah bebas, dunia luar tidak jauh kejamnya dibanding di balik jeruji besi.

Kembali ke Wiwik, dia akhirnya berhasil melarikan diri, terseok-seok karena ia sempat kena pukul dan salah satu payudaranya yang sintal terluka. Ia berhenti di sebuah makam, tempat dimakamkannya salah satu orang yang cukup dekat dengannya serta baik, Oom Cortez yang dengan pintarnya si pengarang bisa mengalihkan sebuah paragraf ke kisah-kisah yang telah berlalu, semacam slide-slide yang tetap wajar dan logis, kerap sekali loncatan-loncatan seperti ini terjadi dalam roman yang satu ini.

Di tengah guyuran hujan yang seakan tidak berpihak kepadanya, ia akhirnya pergi ke pastoran, tempat tinggal pastor. Sang Pastor yang pada saat itu sedang keluh dengan kondisi tempatnya yang tidak jauh lebih baik dengan rumah-rumah kumuh para dombanya. Ia memang bertugas di sebuah kampung yang penuh tindak kriminalitas dan tataruang yang amburadul. Keduanya bertemu, dan Pastor Putrama mencoba menolongnya semampunya, di sini, pastor tersebut sebagai seorang lelaki cukup memberikan penilaian yang adil bahwa Wiwik memang sosok yang cantik.

Setelah diobati alakadarnya, Wiwik diantar oleh Pastor Putrama ke Klinik Bersalin di mana di sana Wiwik menurut pikirannya akan aman bersama Suster Kepala. Mengingat ia tidak ingin timbul fitnah. Kisah pun berlanjut, Pastor Putrama memang menaruh perhatian yang lebih kepada dombanya yang satu itu. Sampai pada suatu waktu, ternyata Wiwik terayu oleh seorang lelaki bernama Hasan.

Entahlah, Pastor Putrama antara menyesali dan mencoba untuk menerima kehendak Bapa di Surga. Namun begitu, dalam setiap malam dan beberapa kejadian dari hari ke hari yang ia lalui, selalu saja bayang-bayang Wiwik datang, dan berbagai pertanyaan menyembul.

Di sini, Pastor Putrama di hadapkan kepada domba-domba kelas bawah, yang hanya punya gereja kecil, reot, dan sekolah agama yang tidak laik, harus juga turun tangan dalam setiap masalah problematika domba-domba yang telah berkeluarga. Banyak kejadian, misalnya tentang istri yang dipukuli, atau suami yang selalu menyalahkan anaknya, seorang anak yang meminta bantuan uang untuk membeli minyak dan makanan karena rumahnya kebanjiran, duh, banyak bagi kisah rakyat jelata, di tengah keimanan mereka yang turun-naik begitu memilukan.

Tidak hanya membaptis, juga membuat sakramen, maupun upacara "mentalkin" mereka yang hendak meregang nyawa. Yang memilukan tidak soal rumah tangga, tetapi juga wabah penyakit pada masa itu. Ada bagian yang begitu memilukan hati saya, ketika Pastor Putrama disuruh oleh dokter yang bukan seorang Katolik untuk melakukan penyucian kepada seorang anak bernama Mira, yang karena penyakitnya, maka usianya tidak akan lama lagi. Pastor pun masuk ke dalam ruang karantika yang lebih mirip ruang tunggu datangnya malaikat maut.

Terjadilah sebuah dialog yang menyayat (57)

Mira siuman dari tidurnya dan menguap lebar-lebar; ia mengusap-usap matanya dan melihat pastornya berdiri di sebelah ranjangnya; ketawa meriak di wajahnya, "Pastor di sini, terima kasih, senang sekali aku, Pastor."

"Terang dong Pastor mau menengok Mira. Menurut Pak Dokter kau benar-benar sakit, maka aku ke mari ingin menemani Mira."

"Pastor tidak boleh bohong, bukan? Katakanlah terus terang, Mira akan mati? ..."

dst...

Terus terang, saya tidak mau melanjutkan dialognya, terlalu menyakitkan bagi saya, seorang anak yang penuh dengan keimanan. Ia diberikan rosario, dan mengaku dosa, sungguh, kadang apa yang orang dewasa tidak dianggap sebuah salah, Mira tiba-tiba saja meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Betapa tegar seorang Mira, ia memang sudah melihat beberapa pasien lainnya juga mati di hadapannya, karena kalau sudah masuk ruang itu, rasanya sedikit peluang, walaupun untuk sekadar ke gereja buat mengaku dosa. Dioleskannya minyak sakramen suci. Pastor Putrama mengabarkan tentang Bapa di Surga. Dan karena hatinya tak tahan lagi, ia pun ke luar dan menangis. Tidak lama, Mira dikabarkan meninggal dunia.

Tanpa ragu, pengarang mengeluarkan segala bentuk kemungkinan-kemungkinan dari sebuah cerita yang tokoh utamanya seorang agamawan Katolik. Di mana ia harus menghadapi seorang Islam yang ingin menikah dengan perempuan Katolik tetapi ternyata si lelaki ingin masuk Katolik saja, bagi Pastor itu tidak mudah, dia bukannya menolak, hanya butuh proses birokratis agar tidak ada hal-hal tragis. Atau menikahkan para domba yang tidak sah pernikahannya; bisa dibilang kumpul kebo doang. Termasuk perjuangannya melawan kemewahan mereka pembesar-pembesar agama Katolik di kota maupun di Vatikan sebagai pusatnya. Ia berjuang untuk membumi, seperti kisah Bunda Theresa di Kalkuta. Mengajukan pendirian gereja, yang sedikit banyak dapat pertentangan juga, termasuk dari kalangan dombanya. Yang menarik juga, Pastor Putrama yang seorang Belanda, membenci sikap bangsanya itu.

Suatu kali ada kejadian menarik, Pastor Putrama naik angkutan pada masa itu dan padat, ia mendengar dua warga asing, seperti dari Skandinavia, yang bagi saya juga sangat menohok, saya kutipkan, "Sudah sering aku mendarat di pelabuhan yang brengsek ini, tetapi baru sekarang dalam bis ini aku mulai mengerti mengapa kepulauan yang luas ini selama lebih dari tiga abad bisa dijajah oleh bangsa Belanda yang kecil itu. Kalau orang-orang tanpa mengeluh dan tanpa protes bersedia diperlakukan begini oleh sopir-sopir dan kenek-kenek sekejam mereka itu, memang mudah sekali sejumlah prajurit menguasai seluruh bangsa ini."

Ternyata, pada masa dulu, angkutan yang masih sedikit sudah ngetem, ambil ongkos yang sembarang dan dengan membabi-buta memasukkan banyak penumpang. Itu masih terjadi sekarang, namun di perparah dengan banyaknya mobil pribadi, akhirnya, angkutan yang kacau, tambah kacau dengan macet. Sungguh, manajemen transportasi perlu dibenahi benar, ya!

Di sepanjang sajian kisah yang timbul tenggelam, bagi Pastor Putrama, Wiwik tetap jadi pikiran, ia merasa berdosa. Kisah yang menyajikan sebuah sosok agamawan yang membumi, tetap menghargai institusinya namun tidak diam saja bila terjadi ketidakwajaran. Sepanjang kisah, tidak selalu disajikan cerita yang pelik, jijik, atau pun problematik, namun juga banyak kejadian yang mengundang tawa renyah, misalnya soal kesurupan, guna-guna, dan hal lucu lainnya. Saya geli betul kalau ingat fragmen itu. Hehe lengkapnya silakan dibaca saja.

Kejadian demi kejadian berlangsung dan disajikan lancar, sampai akhirnya tiba pada akhirnya mengapa diambil judul terlepas sebelum terusap. Adalah sebuah akhir, di mana seorang pastor harus kehilangan domba yang seharusnya, jika tanpa banyak pertimbangan bisa ia selamatkan! Sebuah roman yang memberikan pengalaman politik-sosial, humanistik, psikologis, dan relijiusitas.

Jelas bahwa, ini adalah roman bernuansa Katolik, sebaiknya membaca jangan dengan apriori. Bacalah, ini adalah sastra dan sebuah cerita tentang sebagian dari kita, sebuah kisah anak manusia. Mungkin, akan lebih berdampak positif lagi kalau dikonsumsi oleh kalangan Katolik. Namun, saya yang Islam pun menikmati betul kisah ini. Melembutkan hati. Demikianlah. Salam!

Rabu, 14 November 2012

Daisy Miller: She did as she pleased

Daisy Manis ialah sebuah judul karya sastra terjemahan dari novel Henry James yang berjudul "Daisy Miller" yang dialihbahasakan oleh Sapardi Djoko Damono dan diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia pada tahun 1975 dengan penerbit Pustaka Jaya. Karya Henry James ini pertama kali terbit pada tahun 1878. Sudah lebih dari seratus tahun yang lalu, dan saya baru berkesempatan membacanya pada tahun 2012 ini. Ini adalah bagian dari kehendak Allah. APA yang saya bisa dapatkan dari sebuah karya sastra tersebut? Banyak! jelasnya, novel yang satu ini tidak tebal, jumlah halamannya saja hanya 140 saja. Maka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menikmatinya. Namun begitu, isinya tetaplah sarat dan berat, menurut saya. Karena di dalamnya, sang pengarang menghadirkan sebuah nuansa sosiokultural dan psikologis. Tidak banyak terdapat dialog, sang narator sangat kentara, betapa ia seperti tengah menceritakan ulang atau mendongeng. Tetapi, nggak ada rasa bete yang saya rasakan, benar-benar mengalir begitu saja, sampai ternyata, saya mendapati akhir yang begitu mengejutkan! Anda mesti membacanya untuk mengetahuinya hehe


Daisy Miller adalah seorang gadis muda yang cantik, riang, suka tertawa, dan sangat senang untuk mendapat kenalan baru, khususnya terhadap laki-laki. Dia berasal dari Amerika Serikat, dan lalu pergi ke Eropa, awalnya ke Vevey di Swiss, dan di sinilah dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Winterboune. Pertemuan mereka hanya berlangsung singkat. Akan tetapi Tuhan mempertemukan mereka kembali di Italia. Nah, di negeri inilah segala konflik terjadi, tepatnya benturan budaya. Antara apa yang dianggap oleh Miller itu biasa saja dan dia senang melakukannya, tetapi menurut bangsa asalnya, yakni warga Eropa serta beberapa orang Amerika yang berlibur di sana adalah sebuah tindakan yang tidak patut.

Konon, pada masanya di Eropa itu, seorang perempuan haruslah memiliki tata sopan santun di mana tidak laik keluar malam-malam dengan seorang lelaki yang baru di kenal, atau terlalu mudah berkenalan dengan lelaki serta terlalu banyak teman lelaki. Apalagi sampai bisa bercanda dan tertawa, seharusnya perempuan itu menjaga sikap. Seharusnya Daisy Miller sadar bahwa dia ada di Eropa bukan Amerika. Winterboune yang menyukai sejak pandangan pertama di Vevey, Swiss. Selalu berusaha mengingatkan Miller, hanya saja gadis yang satu ini begitu "manis", katakanlah dalam mencari-cari alasan dan dalih, yang menurut saya memang wajar saja dan tepat sekali apa yang dikatakannya itu. Namun karena "kepolosannya" akhirnya digunjingkanlah Daisy yang manis sebagai gadis perayu, sebagai gadis yang liar, tidak terdidik, dan sebagainya. Walau begitu, Miller tetaplah Miller, She did as she pleased! Fragmen yang paling saya sukai adalah sebagai berikut (hal. 85): Fragmen yang paling saya sukai adalah sebagai berikut (hal. 85):

Gadis muda itu menatapnya lebih sungguh-sungguh, tetapi kedua matanya nampak makin cemerlang saja. "Tak pernah saya perbolehkan seorang pria pun mendikte saya, atau menggagalkan apa yang mau saya kerjakan." "Saya kira Anda berbuat keliru," kata Winterbourne. "Anda kadang-kadang harus mendengarkan pendapat seorang pria--yang tepat." Daisy mulai tertawa lagi. "Tak ada yang kukerjakan selain mendengar kepada kaum pria!" teriak gadis itu. "Coba katakan, apakah Tuan Giovanelli pria yang tepat?"

Jujur saja, Daisy Miller dalam novel tersebut adalah sosok dengan karakter yang khas dan unik, bagaimana dia berusaha untuk bebas dan tetap sopan menurut takarannya, dan sejauh yang terlihat memang tidak merugikan siapapun. Hanya pandangan-pandangan yang berbenturan. Sampai akhirnya, Winterbourne sempat mau terhasut bahwa Daisy Miller itu jalang. Tidak! Sejak awal Winterbourne memang memiliki rasa bahwa gadis yang ia temui sosok yang lain dibandingkan dengan gadis-gadis Amerika lainnya, ia memang terlihat ingin bebas bergaul, tetapi ia tetap menjaga kehormatan. Saya sendiri dibikin gemes dengan tingkah Miller, belum lagi keunikan adiknya, ibu kandungnya yang terkesan aneh dan menutup mata, lalu juga soal pesuruh mereka yang berselubung misteri bagi Winterbourne dan bibinya.

Ah, sebuah kisah yang tidak terlalu panjang kata-kata yang bak kosmetika di wajah, namun memberikan gambaran yang problematik sekaligus unik tentang masa itu. Benar apa yang dikatakan oleh Serafin G Leon dalam sebuah ulasannya yang menuliskan di akhir tulisannya: One century has gone by since the novel´s first publication. But its themes still appeal. Cultures confronted. America and Europe. The contrast of psychologies. A dominant group, the effort for independence. A morality of one´s own. A young mind in the shaping, struggling between wishes of freedom and a need to belong. And the risks (even the tragedy) that we may face if we don´t manage to find the proper balance.

Karya sastra ini tidak sekadar hanya menyajikan sebuah roman perasaan, tetapi lebih kepada sebuah upaya menyodorkan ke hadapan pembaca sebuah realita, dan sebuah visi bagaimana sebaiknya kita harus menempatkan diri terhadap budaya yang telah berlaku di hadapan kita. Daisy Miller memang melakukan apa yang ia ingin lakukan, dan ia merasa senang untuk itu, namun begitu ada kalanya kita pun harus memerhatikan apa yang berlaku. But, memang, kita tidak pernah bisa menyenangkan semua orang, kita hanya bisa berusaha. Terima kasih, salam!

Catatan: Gambar di atas adalah salah satu adegan dari film Daisy Miller, jadi novel ini memang sudah difilmkan.

Catatan yang Sebaiknya Jangan (Hanya) Dibaca!

ilustrasi karya Oksana Mas Dialogue N7 Dialogue 160 x 160 cm Oil on canvas, lacquer 2005

.
.
.
APAKAH tradisi berdiskusi sama dengan ngrumi dan ngobrol di warung kopi? Mungkin saya terlalu ekstrim untuk yang terakhir itu, bukannya saya memandang warung kopi bukan sesuatu. Malah jelas lebih asyik dibanding harus pergi ke warung kopi yang mesti ngantri (dan mahal!) itu. Adalah memang tidak sama antara diskusi dengan ngobrol apalagi ngrumpi. Menurut Mu'arif dalam bukunya Pemintal Kata, diskusi adalah sebuah wahana yang baik bagi perkembangan kepenulisan seseorang, karena di dalamnya ada sebentuk kegiatan dialog-partisipatoris. Namun, adakah tradisi tersebut masih membumi? Atau hanya sebatas kejar setoran, semisal mahasiswa dan murid yang akhirnya hanya sebentuk kekakuan dan berakhir hanya dengan angka di atas kertas?

Rasa antusias terhadap tradisi yang satu ini memang haruslah ditumbuh-kembangkan. Karena, benar-benar bermanfaat. Tidak harus dengan banyak orang, antar dua orang pun bisa. Atau dialog reflektif dengan diri sendiri pun sebenarnya semacam diskusi, saya menyebutnya diskusi monologis. Itu adalah alternatif-alternatif, semuanya bisa dilalui untuk mempertajam mata samurai yang ada di dalam rumah kita! Nah, saya kerap kali melakukan diskusi, khususnya diskusi kecil-kecilan melalui pesan singkat atau SMS melalui telepon genggam. Beberapa rekan kerap kali saya kirimi pesan-pesan agar memantik keberlanjutan pemikiran, agar tidak karatan.

Contoh kasus seperti tadi pagi, di sela-sela banyak yang mengumpat "I hate Monday" saya dengan salah satu rekan malah mengisi dengan diskusi kecil-kecilan melalui pesan-pesan yang tersalur-sampaikan melalu medium telepon genggam. Berikut ini beberapa interaksi dialogis yang terjadi (mengingat tetap beraktivitas maka keterangan waktu khususnya jamnya saya tiadakan, karena memang terkadang kami tidak selalu membalas langsung, kadang mesti saling menunggu selang waktu berlalu hehe kan idupnye bukan hanye smsan!):

Saya: kata-kata sehari-hari dalam puisi afrizal malna benar-benar berjiwa dan terkait realita: kekitaan dalam kungkungan keamerikaan. modern?! dan telur asin lebih dari satu butir?! kerja budaya yang luar biasa! bikin prihatin! belum baca semua, tetapi satu saja udah menohok O.O

KDJ: nah makanya sama pemerintah dianggap kiri dan pembangkang. itulah yang disebut bahasa sastra atau tepatnya bahasa puisi mampu menggoyahkan. nah di situlah letak penyair posisinya ditinggikan menurut sejarahnya, namun bila ada tubuh puisi yang selain memiliki ruh juga memiliki meaningful yang kuat dan tajam. Tidak lantas mencomot bahasa sastra udah sastra habis. Tapi bagaimana penulis mampu menguasai kata yang liar itu bukan dikuasai kata. Kan katanya kata itu bak makhluk hidup yang siap memakan. Kebanyakan kita dimakan kata akhirnya sekadar berhamburan begitu saja.

Saya: sepertinya malna senang makan di warteg ya hehe ya, malna benar-benar tuan kata bukan budak kata.

KDJ: Nah itu, banyakan kan yang budak kata. Semalam ada yang tanya sama aku gini katanya, dialog yang mana yang tepat dipake buat remaja, 1. aduh, semalam aku banyak masalah, 2. ah, sial banget gue banyak masalah, aku jawab kalau tokoh dan penokohannya impulsif ya yang 1, kalau tokoh dan penokohannya agresif ya no 2, nah aku tambahin kalau tokoh dan penokohannya agresif, banal, dan liar ya ngomongnya; ah, bangsat banget dah, masalah gue udah kayak pantat mak loe yang bohai!

Saya: Wow pengajaran yang ekspresif. Kira-kira apa respon yang tanya? Kupikir kalau ia memiliki landasan ilmu, malah akan senyum manis :)

KDJ: Itulah psikologi sastra. Katanya sih, terima kasih jadi nambah pengetahuan. Hihi Karena dia mempertanyakan bahasa gaul dan serius. Lah gaul juga kalau memang mengena? jadi jangan dianggap ringan hehe

Saya: Jelas bahwa, bahasa gaul bisa hanya sebatas gaya tetapi bisa pula berdaya. kembali lagi, kebanyakan remaja terbudakkan, hingga malah merendahkan dirinya sendiri!

KDJ: Nah tepat, memahami kekunoan dan kekinian tanpa tali ilmu hihi

Saya: sulit memang membuat para anjing yang notabene kerap dididik dalam lembaga yang kebanyakan membentuk pengkarakteran budak yang dilegalisasi. institusi pendidikan itu seharusnya laut, seharusnya hutan rimba, bukan pabrik ataupun industri!

KDJ: Itulah tugas berat namun mulia bagi semua guru agar para murid bisa berjalan dalam koridornya.

Saya: pembunuh rumah, dalam sajak ini afrizal malna umpama pram yang menelisik proyek-proyek pengembangan yang membantatkan hidup dan peradaban! :(

KDJ: Hehehe nah dia mewakili dari pihak penyair. seidentik. nah, hal-hal begitu adalah terbit dari kecerdasan yang 'berhati' pada sosialnya berada. Nah yang smart dalam menyomot tetapi jadi enak dibaca karena memang smart semisal gm. coba saja bandingkan bagaimana menelisiknya dalam tulisan, karena apa? orang-orang seperti pram, malna, gm, bukan karena cerdasnya tetapi karena berhati dan mencintai pekerjaannya yakni menulis, tidak berpikir itu ada duitnya atau tidak. Nah pembangunan kesadaran itulah yang sulit.

(OOT! Dalam lain kesempatan, saya kata gm mulai agak "berubah" dibanding masa-masa awalnya, dahulu, namun ia piawai menggunakan "mesin ATM" hehe mungkin sudah mau jadi burung hantu beneran! hihi)

Saya: dan puisi yang berhasil melewati seleksi alam - hidup - (jadi ingat esai gm manakah yang lebih indah?) bukan perkara karena indah semata, lebih kepada wisdom di baliknya, walaupun dengan bahasa yang sehari-hari! mereka "menghayati" bukan "merumuskan"

KDJ: Right... nah itulah yang aku sering bilang bahwa yang menyentuh meaning tidak sebatas kata-kata puitiknya semata. tetapi kerap disalahartikan term ilmiah yang tidak cocok dengan sastra. Padahal, yang menyasar meaning akibat penghayatan makna.

-cukup, capek ngetiknye hehe-

Sebenarnya tidak itu saja, banyak kemomentanan dialogis, namun kerap kali karena kapasitas kotak masuk telepon genggam saya sedikit sedang saya lupa mencatat akhirnya banyak yang tidak tercatat. Mungkin, ke depan, hasil-hasil diskusi dan refleksi saya melalui telepon genggam dengan siapa pun akan coba saya tuliskan. Mungkin tidak banyak yang bisa diambil, tetapi bagi saya ini sebentuk pengingat untuk menyatukan memori-memori saya yang kerap berseliweran.


Pada akhirnya, saya hanya ingin mengajak bahwa di tengah gencarnya para operator seluler promo bonus SMS, mengapa tidak digunakan untuk sesuatu yang positif, tidak harus berdiskusi, walaupun di sini saya menekankan bahwa pentingnya tradisi tersebut. misalnya mengirimkan puisi, atau sekadar say hello dengan kata-kata motivatif. Hehehe Demikianlah. Salam!

Kamis, 27 September 2012

NYANYI HATI



ke mana sunyi pada sepi kulabuh
bila kaubersuka dengan riuh di tubuh

ke mana lagi sunyi pada sepi kulabuh
bila sungguh kaubersuka dengan riuh di tubuh

2012

KARENA AKU MATAHARI

cerlang pagi
datang setiap hari
terlambat tak mungkin didapati
jika saja kaumulai membuka
keenam jendela
rumahmu

2012

(RE)GENERASI MATI

mata si anak
kosong menatap
sepoi angin menyentuh
tubuhnya
sambil menggigil ia bertanya

"ayah, mengapa kini
kausenang menanam zakar
pada lumpur lapindo.
apa sekarang bunda telah mandul?"

2012

PEMAKAMAN

hadirku
tak menjadikan hadirnya
tetapi dekat tetap lekat
tiada lebih tiada kurang
hanya jiwa telah terbang
dari raga
dan aku melihatnya
seperti kenangan lalu

2012