Jumat, 16 Maret 2012

Kasidah Jumaah

di pintu sudah menunggu
aku mangu
karena tak selalu muncul paling dulu
padahal pulang siapa yang tahu mungkin
aku dulu

jika aku adalah tanah
siapa yang kubiarkan menginjaknya
jika aku adalah remah
siapa yang hendak membuatnya abadi

di rumahMu
aku luluh lantah

"apatah bantah
hendak ramah?"

2012

Pada Sebuah Majalah dan Buku

: Asep Sambodja dan Moh. Wan Anwar

aku merasa suka
tapi duka adalah sahabat setianya

dan madah tiada lagi bertuah
aku hanya bisa berdoa

tuan sekalian tak perlu menjawab
sebab sedang menyelam ke masa dalam

selamat jalan, kawan
yang baru kukenal melalui majalah dan buku

2012

Sebab Cinta, Rindu Bercerita

Tuhan,
sungguhkah rinduku kepadaMu
hanya akan sirna bila sudah
berada di rumah: bahagia

tapi ini sungguh aku agak malu
rindu adalah tentu
namun jalan ke surga kerap berapi naga

hanya
sebab oleh cinta, rindu bercerita
aku akan berusaha
agar sampai di sana

bukankah ada yang berkata
obat rindu adalah perjumpaan dengan
sang pujaan?


2012

Puisi Lempar Kata Fikri Si Pemimpi - Usup Supriyadi selanjutnya, buat Fikri, "madah" "guci" "abu" dan "candu" 

Membaca "Angka" Andi Kata

Rubrik apresiasi di blog saya kali ini akan mencoba membaca "angka" karya Andi Kata (selanjutnya saya singkat, AK saja). Saya belum terlalu kenal dengan yang bersangkutan, dan sepertinya tahunya AK soal blog ini pun dikarenakan yang bersangkutan membaca beberapa sajak saya di situs jejakpuisi.com, lalu saya coba mencari jejaknya, khususnya di jendelasastra.com saya menemukan salah satu karyanya yang memikat hati saya, berjudul "angka." di akunnya tersebut, ada beberapa puisi, misalnya, "Dammaj," "Kata," "Bung," Rendez Vous," dan lainnya. Berikut ini saya salin secara keseluruhan sajak angka yang dimaksud:


Kita/ cuma sederet angka/ di atas kertas.//
Nomor-nomor/ bernama identitas.//
Itu muka kita./ Nadi kita./ Darah./ Daging kita.//
Berebut/ minta disebut.// Kendati kusut.//
Keruh.// Keluh.// Gaduh.// Penuh.// Jenuh.//
Tampil kecil/ menyempil.// Nihil.//
Kita telanjang/ menyeru siang.//
Lantas tenggelam/ di balik tirai/ malam.//
Di hadapan sulbi.// Di muka api-api.//
Kita sekadar/ angka/ menunggu senja.//

(titimangsanya tidak begitu jelas, mungkin seperti waktu dipostingkan)

saya suka, tidak sekadar karena tema, tapi jua frasa-frasanya yang cukup saling menguatkan. Tapi ini bukanlah sebuah sajak yang gelap, atau alih-alih disebut "angka" lalu sesulit matematika. Tidak. Angka dan Senja adalah dua lema yang menjadi kunci pembuka maksud dari sajak tersebut.

Bila masa hidup adalah selembar kertas memanjang, maka usia yang berlalu berupa angka dari usia kita yang dipenuhi "keruh" "gaduh" "keluh" hingga sampai membuat kadang hidup ini  "jenuh." tapi, meskipun angka kian bertambah besar nominalnya, tetap saja, "nihil" dan hanya mampu "menyempil" menjadikan tubuh gigil sadar lalu "telanjang." Meski begitu, seru tak selalu umpama peluru, bisa pula rupa batu yang jatuh ke sebuah kolam, tenggelam. pada akhirnya, kesombongan maupun upaya menyeru pada kebenaran yang berapi-api. Tidak akan mencegah sifat dasar senja. Yakni, sesuatu yang begitu lekas pergi, dan hanya sesaat saja.

Walaupun sajak AK tidak begitu gelap, tapi ianya juga bisa memicu tafsir lainnya, di mana memang terkesannnya di dalamnya tersebut ada sikap yang fatalis. Tapi inti utamanya, ini adalah puisi yang merenungkan usia kita yang sudah berada di muka bumi ini. Sebuah tafakur atau apa yang sudah ditorehkan. Ya, semoga akhirnya, senja yang kita tunggu menghadirkan sahaja yang membahagiakan. Amin

Salam, buat AK tetap berkarya.

di mana pun untuk Indonesia

: Irwan Djamaluddin

sudah berapa aksa kaukayuh pedal
sepeda yang tiada pernah berkata, "jedalah dulu"

di sini kukunjungi kau di negeri Jepun
di mana kapan pun dan di mana pun
semua tercurah untuk negeri rayuan kelapa
: Indonesia

lalu waktu seperti malu-malu
menikahi ramah tanah
atau barah punah

mereka yang di sana
masih asyik mengisi perut
serta mencari-cari madah

perjalanan jangan berhenti di sini
ngilu harus kita lindapkan dari lidah
agar Musa mendapati Harun di sisinya

2012

Rabu, 14 Maret 2012

Syakuntala

ke Malini
aku mencari calon bini
jalan ini dan itu
aku tuju

Himalaya kudaki
berharap jaya harapan asa

lalu lara pun tiba kembali
untuk kesekian kali

mungkin ini kali
siarat agar tidak hanya inginkan
syakuntala
semata

: adakah di toko cenderamata
hanya menjual giok semata?

2012

Lidah Ngilu Hati Kelu: Blues buat Allah

o o o
lidah ngilu
hati kelu
adakah Kau masih mau meninggalkan aku

o o o
lidah ngilu hati kelu
adakah mau Kau kembali padaku
ketika aku harus pergi sementara waktu

o o o
lidah ngilu
hati kelu
adakah Kau masih mau meninggalkan aku


2012

Katanya, Di Negeri Kita, Telah Terjadi Perseteruan

aku mengambil seember air ke kali
lalu sembunyi di kamar mandi

2012

Burung Ayam

: Saini KM

setelah pohon ditebang
lalu tanah-tanah melahirkan gelombang

sarang-sarang
meradang
kala ilalang sedih sendiri
meratapi jantung hati

lalu burung-burung
di kerajaan itu
menjelma ayam-ayam
yang mati kemarin


2012

Langit Hitam di Siang Hari

begitulah barangkali
apa yang terjadi kini
di negeri kami
: sahut-sahut para ikan di ujung
palung

2012

Karung

barangkali akan selalu terus begini
malam bertambah malam
siang bertambah siang
pagi bertambah pagi
senja bertambah senja
tapi, apa ini kali kita harus abai lagi?
ketika bertambah
darah terkurung murung
dalam karung
: adakah tempat sembunyi?

2012

Cahaya Padam di Bulan Madu Sepasang Tuan dan Puan

tiba-tiba lampu mati
sedang lilin
ada di rumbun
candu sebutir debu

2012

Sebatang Lilin di Gang yang Kecil

membakar diri
menanti mati
tiada peduli
: hujan asam di mulutnya

2012

Surya di Malam Jaya

hanya kerlip
bintang di angkasa

2012

Delima

setelah lama
berkelana
di sekitar rawamu
delima berbunga padma
lelampu kuning berkerlip-kerlip
di pagi yang lilin
setelah hinggap aku di bawah
tengkukmu
: kau rupa tiada

haruskah aku menunggu
lama kembali, duhai delima?

2012

Sejuta Matahari

bila hati adalah representasi cahaya
ilahi
tidakkah kita biarkan masing-masing
jiwa menjelma matahari
biar gelap tak bisa sembunyi
biar sunyi
kian bunyi

2012

Senin, 12 Maret 2012

Yang Dirindukan Micky Hidayat Dalam Meditasi Rindunya

HAL yang membuat saya tertarik ketika pertama kali melihat buku sajak Meditasi Rindu karya Micky Hidayat adalah halaman sampul depannya yang kaya dengan potongan frasa-frasa yang membikin rasa penasaran di hati saya, dan lagi, padanya jua ada potret sang penyair. Lalu di sampul belakangnya ada semacam testimoni yang puitis dari penyair Afrizal Malna berkaitan dengan kesannya atas Meditasi Rindu tersebut. Hatta, tanpa berpikir panjang, saya masukkanlah ke keranjang belanjaan saya beserta beberapa buku sajak lainnya.

Sesampainya di rumah, saya buka sampul pembungkus plastiknya, dan pertama yang saya buka adalah bagian Tentang Penyair. "Wah!" saya terkesan sekali, apalagi yang bersangkutan itu pernah masuk REKOR MURI membaca sajak selama 5,5 jam non-stop! Tidak hanya itu, keterkesanan saya semakin menjadi manakalah membaca Catatan Penyair yang berisikan penjelasan dari yang bersangkutan tentang proses kreatifnya dan beberapa hal terkait lainnya. Setelahnya, barulah saya mulai kembali dari depan, dari kata pengantar yang ditorehkan oleh Agus R. Sarjono dimana setelahnya saya semakin penasaran saja ingin merasakan kebahagiaan sebagaimana dikatakan olehnya: "sebagaimana saya telah berbahagia (membaca buku ini)" kalimat dalam kurung dari saya. Masih di hari yang sama, saya pun lantas membaca-nikmati-serap-dalami dari halaman awal hingga halaman akhir.

Pada Meditasi Rindu ini, Micky Hidayat mengumpulkan sepilihan sajaknya antara tahun 1980-2008, itu menyisaratkan sosok penyairnya yang teguh dalam jalan kepenyairannya. Lalu, saya, setelah menikmati secara tuntas kumpulan sajak tersebut, merasakan bahwa Meditasi Rindu Micky Hidayat adalah sederetan gambaran berkaitan dengan hal-hal yang dirindukan dan membuat rindunya di lubuk hati Micky Hidayat tetap berderu hingga kini-meski tentu saja, ada beberapa rindu yang membikin hati lama-lama pilu juga.

Secara umum, kesulurahan sajaknya begitu memperhatikan rima dan irama, tapi tetap tidak berpoya-poya dalam hal metafor dan dari segi diksinya pun masih bisa dibilang adalah lema-lema yang tidak begitu mengharuskan para pembacanya untuk membuka sebuah kamus. Beberapa sajaknya cenderung Mimesis-Surealis dari alam (lihat "Persenggamaan Matahari dan Bulan" hal. 70, "Fragmentasi Api, Angin, Air, dan Matahari" hal. 163, "Intrumentalia Jakarta, 1" hal. 66, "Intrumentalia Matahari" hal. 122, dan lainnya), selebihnya Alam-Sufistik, Romantik, dan Sosio-Politik. Micky Hidayat pun tidak terlalu taklid dengan hanya menulis sajak pendek saja atau sajak panjang, saya menjumpai keduanya, bahkan ada satu sajak yang amat bisa dibilang sebagai sajak konkrit (lihat "Sajak tak Berisi" hal. 170).

Lalu apa sajakah yang dirindukan oleh Micky Hidayat dalam kumpulan sajaknya tersebut. Berikut ini saya akan mencoba menghadirkan beberapa yang menurut saya adalah "mereka" yang dirindukan dalam Meditasi Rindu Micky Hidayat.

Ayahanda Tercinta, Sastrawan Hijaz Yamani

1
mengingat kembali dirimu
keterasingan dan sunyi pun menyapa
menulisi air mata, ...

(kutipan sajak "Meditasi Rindu" hal. 142)

Puisi "Meditasi Rindu" tersebut ditunjukan bagi ayahanda dari Micky Hidayat, yakni Hijaz Yamani, yang kemudian dijadikan judul buku sajaknya. Sajak tersebut tergolong panjang, terdiri dari delapan bait yang tentu sajak penuh dengan rasa rindu seorang anak terhadap ayahnya. Namun, ini tidak dalam konteks ketidakikhlasannya si penyair, jutru sebuah rindu yang menghasilkan "airmata doa" bagi ayahanda tercinta. Walapun sosok bapak telah tiada, namun dengan karyanya yang mengada, sang anak masih bisa membaca dan mendapati sosok yang terus jadi teladan dalam jalan kepenyairannya, katanya, o, bapak, sebagaimana sajak-sajakmu/ yang kini tak bisa lagi bicara// tetapi masih saja/ berulang-ulang kubaca// senantiasa aku membacanya/ / Saya kira, sosok sang ayah yang juga sastrawan benar-benar menjadikan contoh teladan dan pemberi semangat bagi Micky Hidayat meski kini Hijaz Yamani tidak lagi hayat, tapi karyanya tak menjadi mayat!

Istri Tercinta, Dra. Hj. Nellawati, MAP

sebuah kebersamaan
telah melahirkan perasaan
kegembiraan dan kesengsaraan
...
adalah seribu kenangan
tak perlu dilupakan

(kutipan puisi "Sajak bagi Istri" hal. 88)

Dari judulnya saja, jelas sekali bahwa sajaknya yang satu ini diperuntukkan bagi istrinya, yang senantiasa dirindukkannya bukan karena keterpisahaan, namun kebersamaan yang setia meski jarak mengada. Sebagai seorang istri penyair, tentu tahu untung-ruginya. Dan, atas dedikasi Nellawati sebagai istri maka Micky Hidayat sebagai suami pun kemudian menuliskan sajak yang tidak sekadar berisikan madah, tapi lebih tepatnya sebuah petuah agar bahtra tidak karam dalam kelam.

Anak terkasih, Muhammad Adhitya Hidayat Putra dan Dita Rebana Hidayat Putri

cukuplah dikenang
masa-masa kebersamaan kita; susah-senang,
suka-duka, yang tak mungkin terhapuskan
dari ingatan

(kutipan puisi "Sajakku tak Pernah Selesai Menulismu" hal. 150)

dalam sajaknya ini Micky Hidayat merindukan anak-anaknya menjadi sosok yang dewasa, dalam segala kondiri, termasuk saat ada dan tiadanya sang ayah di dekat mereka. Begitu, dalam dan saya sebelum seorang yang merasakan kehilangan atas sosok bapak juga merasa terobati dengan sajaknya ini.

Sahabat-sahabat penyair lainnya

Beberapa sajaknya didedikasikan bagi beberapa sahabatnya, yang tentu saja juga sejalan dalam artian menggeluti jalan puisi, yang lainnya juga didedikasikan bagi sesama penyair tapi lebih karena Micky Hidayat merasa mendapatkan pelajaran berharga, atau dengan kata lain diperuntukkan bagi guru dalam kepenyairannya, namun tidak menjadikan Micky Hidayat taklid atau membebek secara mutlak si guru tersebut, misalnya, Afrizal Malna, Sapardi Djoko Damono, Sutardji CB, Rendra, Acep Zamzam Noor, Jamal D. Rahma, dan lainnya. (Bagi saya, penyair-penyair tersebut, khususnya tiga di awal memang cukup menjadi faktor pengaruh bagi para penyair lainnya)

Bangsanya

Sebagai seorang bumiputra Indonesia, Micky Hidayat, begitu peduli dengan kondisi sosio-politik bangsanya, khususnya yang terjadi di Kalimantan di mana ia berdomisili. Saya bersyukur bahwa puisi tidak hanya dijadikannya ajak asyik sendiri, tapi juga sebagai bentuk kesaksian dan bentuk turut aktif dalam bela negara!

Lingkungan Hidup

dalam sajaknya "Hutan di Mataku" yang bertitimangsa tahun 2005, Micky Hidayat jua memberikan kepeduliannya akan kelangsungan lingkungan hidup, khususnya, kita ketahui bersama bahwa di Kalimantan hutan Indonesia sudah bilang dibilang masuk dalam kondisi "rawan" punah! Hal itu pun menjadikannya rindu, untuk hadirnya manusia-manusia yang tidak hanya hobi jadi pembalak liar.

Dan hal lainnya, termasuk kepada Tuhannya yang Maha Rahman dan Rahim, Allah ta'ala serta Rasulullah, Muhammad. Kemudian, saya jumpai bahwa semua hal yang dirindukannya itu menyebabkan ia tetap teguh jua dalam kepenyairan. Sebagaimana dikatakannya dalam sebuah sajak yang diletakkan di halaman paling awal, dengan bait perbait hanya dua baris mirip gaya gurindam. Yang mana sajak ini adalah sajak yang paling saya sukai selain karena kata-katanya juga kedalaman tafsirnya yang tentu saja menembus ke segala apa yang saya sebutkan di atas, mereka yang dirindukan oleh Micky Hidayat. Berikut ini mari kita nikmati puisinya tersebut, saya salinkan secara utuh:

Sajak Untukmu

bila kuseru-seru namamu dalam setiap rinduku
adalah rinduku yang mengharap kehadiranmu

bila kurindu-rindu dirimu dalam setiap sepiku
adalah kesepianku ingin selalu bersamamu

bila sepi jadi pisau menikam dan melukaiku
adalah ketidakberdayaanku di hadapanmu

bila lukaku meneteskan darah di batu
adalah kekerasan hatiku mencintaimu

bila ternyata kau tak mencintaiku
aku tetap menulis sajak-sajak untukmu

(1980, hal. 2)

Sebuah puisi yang padat, singkat dan singset. Tidak ada keterpecahan. Begitu padu padan. Dan saya suka sekali si puisi ini, tidak sekadar tema dan isi redaksinya, saat dibaca pun begitu indah. Maka patutlah saya mengindahkannya. Ini bukan berarti saya mengenyampingkan sajak Micky Hidayat lainnya yang tentu saja juga memiliki kelebihan yang banyak.

Akhirulkata, saya bahagia membaca kumpulan sajak Meditasi Rindu Micky Hidayat yang diterbitkan oleh Penerbit Tahura Media. Selamat untuk Micky Hidayat!

Salam


Usup Supriyadi
Bogor, Maret 2012

Minggu, 11 Maret 2012

Hanya Ada Apa yang Sudah Ada

dunia
batu baja
memahalenakan ajal

semuanya terpental
ketika tak ada uang di bawah bantal

dan kala tengah mengurus surat-surat
dengan sebuah isarat dana penoda
setan-setan tertawa
membahak dahak

o! pemilik kunci-kunci surgawi
pintu-pintu neraka
ke manakah kuncinya
sehingga ia begitu terbuka di hadapku!

hatta
pena patah
hanya ada apa yang sudah
ada

2012

Mop

: Trip Umiuki

telunjuk kita dengan mereka
memang beda, kawan!
kita ini jelata, sedangkan mereka
pejabat bertahtakan harta
dengannya bisa menjadikan kata-kata begitu mantra

abrakadabra!

abrakadabra!

abrakadabra!

abrakadabra!

telunjuk kita lebih sering teracung
menggapai langit
dan mengakar tanah
sedang mereka hanya suka menusuk-nusukkan
telunjuknya pada mulut-mulut yang bicara soal keadilan dan kebenaran
agar diam, dan diam-diam diam dalam kematian
atas segala lelucon yang tidak lebih enak dari oncom
akankah kita biarkan ia serupa kondom
yang menghalangi muncratnya semangat
dan benih-benih generasi yang berperibudi?
astaga! tapi aku tertawa sendiri
kawan! melihat muda-mudi
begitu asyik menjadikan kondom
sebagai mop top sedang nikah sebagai momok
kawan! kalau benar negeri lelucon itu seperti ini adanya
apatah kaumasih bisa tertawa?
-aku harap tulang-tulangmu
masih cukup kuat untuk mendulang
semangat juang!


2012

Wendy Videlock Kepada Windu Mandela

daun-daun di dahan
akankah selamanya bertahan?
setelah sekian lama
aku menyebut sekenanya, tergesa
terbata, akan pencari daun-daun kehidupan
sedang dedaunan itu sendiri harus terus bersiap diri
-adakah yang tahu ke mana akhirnya jatuh?
tapi inikah keajaiban, pahit obat
jadi sehat selamat?

kulihat
kau semenjana senja
di atas meja

duhai yang gamblang menyebut maut
bilakah daun jatuh sebelum waktunya
adakah jua bagian dari intrik yang menarik

dari Sumedang
kau layangkan dendang
Jaipong:
daun-daun menari
adakah yang hendak peduli?

dari kota di mana tak ada kata bahagia
yang terkesan nyata: Bangladesh
daun-daun netes
di segenap adres!

2012

Jumat, 09 Maret 2012

Bika Ambon

seperti inilah dunia
penuh lelubang yang bisa menjerumuskan
bilamana tidak hati-hati saat melangkahkan kaki
tak semua lubang menganga, terang-benderang
sisanya tertutup keju-keju yang menipu para tikus
berbalutkan pakaian semi-kudus, atau mengaku seorang kudus

ah, dan kita tak hanya aroma pandan, kau pun
bisa membaui durian-tapi tetap saja
lubang begitu duri
yang menganggap kau adalah rumputan
siap disantap biri-biri

 2012

Seperti Pengakuan

hati dalam tembikar
jantung memar
tanpa tawa para camar

airmata
batu bata
secara berkala
mengeja kata
apatah kelak tak akan menuai makna?

maka henti pun pergi
lalu, kemudian aku
dan sajak
terus beranjak
menapaki
jalanan saksi
ini

seperti pengakuan
aku ingin tetap dipangkuanmu
bila perlu aku yang akan memangkumu
inilah proses yang tak kenal usai
kecuali ajal mencekal

2012

Yang Gagal Menemu Tuhan di Darulfana

adalah ia yang hanya berkutat pada aku dan aku
adalah ia yang hanya senang menggunakan aku
lalu berkata "aku adalah yang sejati"

itulah mereka yang gagal
hatta, siapakah yang berhasil?

adalah dia yang hanya berkutat pada kau dan kau
adalah ia yang hanya senang menggunakan kau
lalu berkata "hanya ada Engkau"

2012

Rabu, 07 Maret 2012

Kusebut Ini Sajak yang Lembut

o, baginda puan muda di muka
apatah hamba harus selalu meneroka segala
laku tampah?

telepon genggam berdering
angin mengabarkan rindu dingin
"aku pingin bikin kamu nyaman, tuan"
kubalas dengan kata yang bata
"biarkan aku meminangmu dulu
itu pun tentu bila jodoh bersatu subuh"

hatta
kugenggam jemari malam
mengajak pergi menghampiri pagi
yang masih berselimutkan duri-duri
embun kesturi

"dunia memang bukan surga
tapi kita bisa jadikan ia ladang
firdausi" ujar lampu-lampu jalan
yang beberapa pecah kaca penjaganya

lalu
pulsa ada batas waktu aktifnya

2012

Pacar Setahun

Januari
adalah awal
dan nama saling berpangkal

Februari
adalah rubaiat
mengendap-endap
mencari-cari secari-carinya

Maret
adalah minimarket
tempat lindap semilir
aeloes

April
adalah gulir
pandir berpikir
di tembikar sinar mikir

Mei
adalah lupa
akan segala dupa
yang telah dibakar khilaf

Juni
adalah hari
tinggi merendah desah
abadiah

Juli
adalah pulih
pulik memekik

Agustus
adalah teror yang
terus-menerus
umpama sakit
di sekitar anus

September
adalah ember
yang melebar meski
air sesumbar enggan jadi ajuster

Oktober
adalah kobar debar
samar samara
yang bara

November
adalah segala
yang jelaga ditunda

Desember
adalah akhir
bertemu sebab
segalanya begitu sembilu
ketika kukenal
kau tak kukenali

2012

Kajitow El-kayeni Mengupas "El-Kayeni"


Sajak Usup Supriyadi (Bogor, Jawa Barat)


hari yang bahagia, di manakah
El-Kayeni?

bila kalian menjumpainya
maka potonglah lidahnya
El-Kayeni bakal tetap pada prinsipnya
dalam membawa panji gita cinta
kritik sastra dalam darahnya
dengan apa adanya
ia akan tetap merangkai-terangkan
sayap-sayap patah
para penyair muda
yang asyik saja
dengan keremangan
struktural

dan yang tersisa adalah secarik
yang bukan semata intrik
bahwa ia tengah belajar mencinta jarak
agar pecinta dan yang dicinta
bermekaran bersama-sama
menjadi semesta sastra
yang purna
dalam menarikan dunia
kata menjadi makna
umpama balerina

hari yang bahagia, di manakah
El-Kayeni?

Februari 2012

Subyek-subyek yang ada dalam diri manusia itu tidak dalam posisi diam. Bahkan melihat kecenderungan dari naluri itu, ternyata menghendaki kebebasan. Dengan mudah dapat dipahami, manusia dengan kehendak untuk bebas itu selalu mencari celah untuk mengalirkannya. Tetapi kesadaran terhadap kebebasan individu lain mencegah seseorang untuk bertindak semata mengatas-namakan kebebasannya. Di dalam bahasa, peraturan sadar ini pula yang membuat seseorang menimbang manfaat. Bahasa, seperti yang kita tahu adalah medium untuk menuangkan ide atau kehendak itu, sebenarnya hanya alat untuk menyampaikan maksud. Kebebasan seseorang dalam berbahasa sebenarnya dibatasi oleh keperluan komunikasi, tetapi dalam komunikasi ada istilah stimulus-respon, maka bahasa yang sudah terlepas ini bertumpu pada pemahaman lawan bicara atau orang lain. Di sinilah bahasa itu kemudian bergerak sendiri dan memunculkan penafsiran atas dirinya.

Puisi, dalam arti khusus juga menghendaki kebebasan. Tetapi sejauh apa pun puisi bergerak, bahan dasar pengungkapannya adalah bahasa juga. Maka setelah aliran-aliran kritik sastra mengambil bagian dalam membongkar karya sastra, Derrida muncul dengan Dekonstruksinya. Teks dia pandang sebagai unsur yang bisa dibongkar dan dipasang kembali. Dekonstruksi atau acap disebut Poststrukturalisme adalah aliran kritik sastra yang fokus analisanya bergeser pada peranan pembacanya. Keberhasilan penafsiran dengan metode ini bergantung sepenuhnya pada keberhasilan penyair dalam memberikan kode bahasa dalam puisinya. Untuk membongkar puisi gelap, dekonstruksi tidak banyak membantu, karena teks yang muncul tidak dalam bentuk penalaran yang tersistemasi.

Penyair Usup Supriyadi memahami subyek yang bergerak dalam puisi ini sebagai sosok yang menggeluti dunia kritik sastra. Dalam hal ini penyair menyimpulkan, Strukturalisme atau lebih jauh Poststrukturaslisme membayangi gerak subyek tadi. Hal itu bahkan dikatakan "(mengalir) dalam darahnya." Dengan sudut pandang itu penyair masuk ke dalam tubuh subyek dan memetakan gerak dinamisnya dalam interaksi sosial. Meski sebagian besar kandungan puisi di atas itu adalah pujian, namun terkandung kritikan juga di dalamnya. Hal itu tersimpan dalam pertanyaan, “
hari yang bahagia, di manakah / El-Kayeni?

Seperti dinamika yang sudah biasa berlaku dalam dunia sastra, tidak ada kemutlakan di sana. Berbagai aliran kritik sastra muncul dan saling menumbangkan. Yang kekal dari dinamika tersebut adalah semangat pembaruan. Maka wajar jika Roland Barthes membongkar Semiotika Ferdinand de Saussure lalu menamakannya Semiologi. Begitu pula Charles Sanders Peirce dengan sistem triadiknya: ground, object, interpretant. Mereka menjelajah lebih ke dalam mengenai sistem tanda yang awalnya dimunculkan oleh Sausure. Perbedaan dalam setiap kajian mereka tentu ada, seperti konotasi Barthes yang berbeda dari pengertian konotasi secara umum, atau Peirce yang melangkah keluar dari bahasa (tanda non-bahasa).

Kenyataan mengenai ketidak-mutlakan ini membuat penyair Usup Supriyadi melesatkan pertanyaan, “di manakah / El-Kayeni?" Dalam arti sempit, pertanyaan ini mencoba menjangkau posisi subyek secara fisik. Di tengah perhelatan perayaan ulang tahun, dengan menjamurnya puisi dedikasi itu di manakah subyek berada? Tapi lebih jauh, gugatan terhadap subyek itu dimaksudkan untuk memposisikan dirinya agar tetap berpegang pada sudut pandang yang diyakininya. Di tengah munculnya intrik itu diperlukan keteguhan dalam bersikap. Sebuah gugatan dengan semangat kebaruan posmo di dalamnya. Dan itu sebuah teguran halus yang diwujudkan dengan pertanyaan satire tersebut.

oleh Kajitow El-Kayeni
Esais

Mencari Berkah

langkahkanlah kaki ke tempat-tempat yang diberkati
kata Nabi, tempat-tempat tersebut adalah Masjid-masjid,
kota Mekkah, kota Madinah, Negeri Syam, dan Negeri Yaman.

ke sana bukan untuk mengusap-usap tanah
atau menjadikan sesuatu sebagai azimat daripadanya
tapi di situlah, segala macam ibadah dan muamalat
beroleh berkah yang lebih berat

adakah di kuburan akan memberikan
penghasilan berupa pahala bagi kalian?
justru ahlulkubur lebih butuh kepada kita
untuk mendoakan mereka

2012

Senin, 05 Maret 2012

Ladang

bayu berembus ilalang berdendang
meneroka nuansa berbaur citra
tapi ke situ ke sini tiada jumpa
ke ladang haus membayang

subuh jatuh di atas acerang
kini tiada
tanah jadi bata
tubuh-tubuh jatuh, bang!

pacul dan parang kini disimpan
jagung dan umbi tak jadi
hanya nasi jadi pilihan

tapi apa jadi nanti bila ladang sudah hilang di hadapan
nasi pun tiada jadi
mengapa sosok dalam pembangunan hanya menanam senapan

2012

Belajar Sajak pada Beberapa Lagu Barat

A. Teeuw pernah menulis berkaitan dengan sastra khususnya puisi, katanya, "tergantung pada kata," lalu Sapardi Djoko Damono pun pernah mengatakan hal semisal, katanya, "kata adalah segala-galanya dalam sastra" atau juga "pada mulanya adalah kata." Dan dengan adanya kredo Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari beban makna, menjadikan penyair kini begitu abai pada yang namanya rima dan irama.

Cobalah kita tengok beberapa lagu barat yang notabene bukan sebuah puisi tapi syair lagu. Misalnya, "Be My Baby" Vanessa Paradis, dari judulnya saja sudah berrima dan berirama, saya kutipkan juga isi syairnya,

is to Be My Baby, Baby
I just want to be sure
that forever and more
you would Be My Baby

Atau lagunya "Baby" Justin Bieber

You know you love me, I know you care
Just shout whenever, and I'll be there
You are my love, you are my heart
And we will never, ever, ever be apart

Sungguh, begitu rapi dan apik dari segi rima dan irama, jadi ini sebuah syair lagu yang tidak sekadar. Mengapa? Sebab itu menunjukkan bahwa proses dalam mengolah katanya itu melalui upaya yang sungguh, dan sesuatu yang lahir dari kesungguhan selalu mengesankan dan memukau banyak orang. Untuk itulah banyak lagu barat yang melekat di hati banyak orang. Karena tidak hanya makna dan kelogisan di dalamnya, tapi juga rima dan irama pada syair yang dituliskannya. Pantaslah kemudian Agus R. Sarjono menyatakan soal sajak yang baik, katanya, "pada mulanya adalah rima." Jadi, selain makna, rima dan irama bisa pula menunjukkan seberapa keras si penyair melahirkan sebuah puisi dalam hal bergelut untuk mengolah kata (dalam pencarian diksi agar juga tidak basi atau tidak terjebak pada gaya hanya mengulang-ulang kata yang tidak lagi perawan, alias sudah banyak penyair yang memakainya), agar tidak sekadar rangkaian kata-kata semata umpama baris-baris pada kolom di koran.

Salam

Berpuisi-puisi Dahulu, Memuisikan Kemudian

Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” --Goenawan Mohamad

Menurut laporan World Bank dalam Education in Indonesia-From Crisis to Recovery (1998), dinyatakan bahwa minat dan kemampuan baca orang Indonesia, khususnya anak-anak di tingkat dasar satuan pendidikan amat rendah. Dan, sampai sekarang, minat baca (orang) Indonesia masih rendah (Kompas.com, 29/2/11). Ini tentu kabar yang tidak mengenakkan tidak hanya bagi praktisi di dunia kepenulisan ataupun penerbitan, tapi segenap bangsa ini, khususnya mereka yang peduli akan pentingnya "sadar budaya baca."

Dan, di sampul dalam bagian belakang majalah sastra Horison saya selalu mendapati kalimat ini, "orang berbudaya baca sastra." Dan salah satu bentuk karya sastra adalah puisi. Maka, saya katakan bahwa berpuisi-puisi dahulu adalah sebuah cara untuk menuju tingkat kepenyairan yang "mapan." Kita harus akui bahwa sekarang ini kita bisa dapati puisi (dengan "p" kecil) di mana-mana, tapi di sisi lain kita juga sulit menemu puisi (dengan "p" besar) di mana-mana, seakan-akan meruahnya sajak saat ini menyingkirkan apa yang dikatakan oleh Bertolt Brecht, zaman buruk bagi puisi. Tapi bagi saya, sekarang akan tetap menjadi zaman buruk bagi puisi bila tidak adanya minat baca yang besar, khususnya pada mereka yang ingin menjadi penyair. Dan seharusnya, penyair yang sudah bernama besar harusnya lebih suka membaca segala buku puisi, dan itu memang dipraktikkan oleh penyair dahulu, dimana mereka memang suka membaca, bukankah ada pendapat yang menyatakan bahwa tulisan yang baik itu lahir dari mereka yang gemar membaca.

Oleh karena itulah, khususnya bagi yang baru menginjakkan kaki di ranah puisi, langkah pertama tentu harus mau menulis puisi kalau memang mau jadi penyair, tapi untuk mencapai puncak kepenyairan yang gemilang, tentu butuh proses yang panjang dan itu bisa pula disiasati dengan gemar membaca buku-buku puisi, baik dari generasi balai pustaka, pujangga baru, sampai yang terkini, malah bagus juga kalau bisa bersilaturahmi dengan sajak-sajak dari luar negeri. Dari kegiatan berpuisi kita bisa terdorong untuk juga berdiskusi, memperbanyak perbendaharaan kata, membangkitkan semangat memperbarui frasa-frasa yang hambar menjadi segar, mencari cela yang ada untuk dikembangkan lebih baik, dan untuk menghindari mana kala nanti kita membuat yang serupa.

Maka berkaitan dengan qoute dari Goenawan Mohamad, maka sebagai orang yang beriman, atas rahmat Tuhan kepada kita, yakni memberikan kemampuan membaca, haruslah kita syukuri dengan menjadikan membaca tidak sekadar hobi tapi kebutuhan. Jangan jadi egois, hanya menulis tidak mau membaca, atau sebaliknya. Yang terbaik adalah yang tengah-tengah, agar dunia perpuisian dan kepenyairan tetap hidup karena dihidupi oleh orang-orang yang hidup! Walaupun kita sadari bahwa jalan kepenyairan adalah jalan sunyi yang berkesendirian, tapi ingat, satu manusia itu bukan manusia! Mari kita semarakkan minat baca! Khususnya, membaca puisi!

Selamat berpuisi-puisi dahulu, memuisikan kemudian-walaupun tidak haram bila memuisikan dahulu, baru berpuisi-puisi kemudian.


Omong-omong, adakah buku sajak di rak buku kalian?  Sudahkah kalian mendarasnya?
Jikalau membeli buku puisi belum bisa digenapi, setidaknya bila berkunjung ke bengkel kita yang kita cintai ini, jangan sekadar memposting puisi, juga saling membaca puisi yang ada, itung-itung silaturahmi juga, kan?

Salam