Terlepas
Sebelum Terusap adalah sebuah roman karya R. Sukri Kaslan, yang mana
itu pada penerbitan pertama kalinya ialah nama samaran dari Romo
Rudolphus Kurris SJ, seorang rohaniawan Katolik, bekas Belanda, namun
sudah menjadi warga Indonesia, sekarang sudah almarhum. Dulu, memang
jarang seorang sepertinya mengarang roman
yang ada nuansa percintaannya, jadilah menggunakan nama pena.
Diterbitkan oleh Sinar Harapan cetakan pertama 1985, dan yang saya baca
cetakan kedua tahun 1991. Buku ini ternyata tersimpan juga di katalog
Yale University Library. Dan saya baru membacanya tahun 2012, hehe
Seperti dikatakan oleh Satyagraha Hoerip di bagian testimoni, yang
katanya, sebuah cerita yang akan membikin pembaca merasa jijik. Benar
saja, saya merasakan jijik dan mual. Tetapi bukannya tidak bagus, malah
bagus sekali. Sangat membumi, dalam tataran penggunaan bahasanya. Sebuah
roman yang kalau saya lihat dari sampulnya maka akan menipu, saya kira
perempuanlah yang jadi tokoh utamanya, ternyata seorang laki-laki,
seorang pastor, bernama Putrama. Dia ditempatkan di sebuah pastoran yang
berada di perkampungan yang ada di pelabuhan. Tidak jelas penyebutan
namanya, namun saya lihat dari penggambaran penceritaannya, kemungkinan
besar itu lokasinya di Jakarta Utara, pasca awal-awal kemerdekaan.
Bab pertama langsung di buka dengan nuansa yang bikin pilu, di mana
seorang tua buta mantan yang pernah berjaya masa Belanda, harus berkata
kepada gadisnya agar bekerja sebegai pelacur; meski lembut saya
merasakan kebiadabannya ketika berkata: "... berkat Tuhan uang
tersembunyi dalam payudaramu yang putih ini."
Adalah Wiwik nama
gadis itu, seorang anak yang dipungut hasil dari perzinaan seorang
budak dengan tuannya. Entah dia pernah tahu atau belum soal itu.
Menjelang remaja dan tekanan ekonomi, sampai ada yang bilang masih enak
pada masa merah-putih-biru.
Dialog-dialognya memang penuh
dengan bahasa prokem yang kasar, namun itu tepat dengan tokoh dan
penokohan serta setting yang dikondisikan oleh si pengarang, jadi nggak
ngaco, tetap logis. Diceritakan pula tentang begitu kejamnya penjara,
namun setelah bebas, dunia luar tidak jauh kejamnya dibanding di balik
jeruji besi.
Kembali ke Wiwik, dia akhirnya berhasil melarikan
diri, terseok-seok karena ia sempat kena pukul dan salah satu
payudaranya yang sintal terluka. Ia berhenti di sebuah makam, tempat
dimakamkannya salah satu orang yang cukup dekat dengannya serta baik,
Oom Cortez yang dengan pintarnya si pengarang bisa mengalihkan sebuah
paragraf ke kisah-kisah yang telah berlalu, semacam slide-slide yang
tetap wajar dan logis, kerap sekali loncatan-loncatan seperti ini
terjadi dalam roman yang satu ini.
Di tengah guyuran hujan yang
seakan tidak berpihak kepadanya, ia akhirnya pergi ke pastoran, tempat
tinggal pastor. Sang Pastor yang pada saat itu sedang keluh dengan
kondisi tempatnya yang tidak jauh lebih baik dengan rumah-rumah kumuh
para dombanya. Ia memang bertugas di sebuah kampung yang penuh tindak
kriminalitas dan tataruang yang amburadul. Keduanya bertemu, dan Pastor
Putrama mencoba menolongnya semampunya, di sini, pastor tersebut sebagai
seorang lelaki cukup memberikan penilaian yang adil bahwa Wiwik memang
sosok yang cantik.
Setelah diobati alakadarnya, Wiwik diantar
oleh Pastor Putrama ke Klinik Bersalin di mana di sana Wiwik menurut
pikirannya akan aman bersama Suster Kepala. Mengingat ia tidak ingin
timbul fitnah. Kisah pun berlanjut, Pastor Putrama memang menaruh
perhatian yang lebih kepada dombanya yang satu itu. Sampai pada suatu
waktu, ternyata Wiwik terayu oleh seorang lelaki bernama Hasan.
Entahlah, Pastor Putrama antara menyesali dan mencoba untuk menerima
kehendak Bapa di Surga. Namun begitu, dalam setiap malam dan beberapa
kejadian dari hari ke hari yang ia lalui, selalu saja bayang-bayang
Wiwik datang, dan berbagai pertanyaan menyembul.
Di sini,
Pastor Putrama di hadapkan kepada domba-domba kelas bawah, yang hanya
punya gereja kecil, reot, dan sekolah agama yang tidak laik, harus juga
turun tangan dalam setiap masalah problematika domba-domba yang telah
berkeluarga. Banyak kejadian, misalnya tentang istri yang dipukuli, atau
suami yang selalu menyalahkan anaknya, seorang anak yang meminta
bantuan uang untuk membeli minyak dan makanan karena rumahnya
kebanjiran, duh, banyak bagi kisah rakyat jelata, di tengah keimanan
mereka yang turun-naik begitu memilukan.
Tidak hanya membaptis,
juga membuat sakramen, maupun upacara "mentalkin" mereka yang hendak
meregang nyawa. Yang memilukan tidak soal rumah tangga, tetapi juga
wabah penyakit pada masa itu. Ada bagian yang begitu memilukan hati
saya, ketika Pastor Putrama disuruh oleh dokter yang bukan seorang
Katolik untuk melakukan penyucian kepada seorang anak bernama Mira, yang
karena penyakitnya, maka usianya tidak akan lama lagi. Pastor pun masuk
ke dalam ruang karantika yang lebih mirip ruang tunggu datangnya
malaikat maut.
Terjadilah sebuah dialog yang menyayat (57)
Mira siuman dari tidurnya dan menguap lebar-lebar; ia mengusap-usap
matanya dan melihat pastornya berdiri di sebelah ranjangnya; ketawa
meriak di wajahnya, "Pastor di sini, terima kasih, senang sekali aku,
Pastor."
"Terang dong Pastor mau menengok Mira. Menurut Pak Dokter kau benar-benar sakit, maka aku ke mari ingin menemani Mira."
"Pastor tidak boleh bohong, bukan? Katakanlah terus terang, Mira akan mati? ..."
dst...
Terus terang, saya tidak mau melanjutkan dialognya, terlalu menyakitkan
bagi saya, seorang anak yang penuh dengan keimanan. Ia diberikan
rosario, dan mengaku dosa, sungguh, kadang apa yang orang dewasa tidak
dianggap sebuah salah, Mira tiba-tiba saja meminta maaf atas
perbuatannya tersebut. Betapa tegar seorang Mira, ia memang sudah
melihat beberapa pasien lainnya juga mati di hadapannya, karena kalau
sudah masuk ruang itu, rasanya sedikit peluang, walaupun untuk sekadar
ke gereja buat mengaku dosa. Dioleskannya minyak sakramen suci. Pastor
Putrama mengabarkan tentang Bapa di Surga. Dan karena hatinya tak tahan
lagi, ia pun ke luar dan menangis. Tidak lama, Mira dikabarkan meninggal
dunia.
Tanpa ragu, pengarang mengeluarkan segala bentuk
kemungkinan-kemungkinan dari sebuah cerita yang tokoh utamanya seorang
agamawan Katolik. Di mana ia harus menghadapi seorang Islam yang ingin
menikah dengan perempuan Katolik tetapi ternyata si lelaki ingin masuk
Katolik saja, bagi Pastor itu tidak mudah, dia bukannya menolak, hanya
butuh proses birokratis agar tidak ada hal-hal tragis. Atau menikahkan
para domba yang tidak sah pernikahannya; bisa dibilang kumpul kebo
doang. Termasuk perjuangannya melawan kemewahan mereka pembesar-pembesar
agama Katolik di kota maupun di Vatikan sebagai pusatnya. Ia berjuang
untuk membumi, seperti kisah Bunda Theresa di Kalkuta. Mengajukan
pendirian gereja, yang sedikit banyak dapat pertentangan juga, termasuk
dari kalangan dombanya. Yang menarik juga, Pastor Putrama yang seorang
Belanda, membenci sikap bangsanya itu.
Suatu kali ada kejadian
menarik, Pastor Putrama naik angkutan pada masa itu dan padat, ia
mendengar dua warga asing, seperti dari Skandinavia, yang bagi saya juga
sangat menohok, saya kutipkan, "Sudah sering aku mendarat di pelabuhan
yang brengsek ini, tetapi baru sekarang dalam bis ini aku mulai mengerti
mengapa kepulauan yang luas ini selama lebih dari tiga abad bisa
dijajah oleh bangsa Belanda yang kecil itu. Kalau orang-orang tanpa
mengeluh dan tanpa protes bersedia diperlakukan begini oleh sopir-sopir
dan kenek-kenek sekejam mereka itu, memang mudah sekali sejumlah
prajurit menguasai seluruh bangsa ini."
Ternyata, pada masa
dulu, angkutan yang masih sedikit sudah ngetem, ambil ongkos yang
sembarang dan dengan membabi-buta memasukkan banyak penumpang. Itu masih
terjadi sekarang, namun di perparah dengan banyaknya mobil pribadi,
akhirnya, angkutan yang kacau, tambah kacau dengan macet. Sungguh,
manajemen transportasi perlu dibenahi benar, ya!
Di sepanjang
sajian kisah yang timbul tenggelam, bagi Pastor Putrama, Wiwik tetap
jadi pikiran, ia merasa berdosa. Kisah yang menyajikan sebuah sosok
agamawan yang membumi, tetap menghargai institusinya namun tidak diam
saja bila terjadi ketidakwajaran. Sepanjang kisah, tidak selalu
disajikan cerita yang pelik, jijik, atau pun problematik, namun juga
banyak kejadian yang mengundang tawa renyah, misalnya soal kesurupan,
guna-guna, dan hal lucu lainnya. Saya geli betul kalau ingat fragmen
itu. Hehe lengkapnya silakan dibaca saja.
Kejadian demi
kejadian berlangsung dan disajikan lancar, sampai akhirnya tiba pada
akhirnya mengapa diambil judul terlepas sebelum terusap. Adalah sebuah
akhir, di mana seorang pastor harus kehilangan domba yang seharusnya,
jika tanpa banyak pertimbangan bisa ia selamatkan! Sebuah roman yang
memberikan pengalaman politik-sosial, humanistik, psikologis, dan
relijiusitas.
Jelas bahwa, ini adalah roman bernuansa Katolik,
sebaiknya membaca jangan dengan apriori. Bacalah, ini adalah sastra dan
sebuah cerita tentang sebagian dari kita, sebuah kisah anak manusia.
Mungkin, akan lebih berdampak positif lagi kalau dikonsumsi oleh
kalangan Katolik. Namun, saya yang Islam pun menikmati betul kisah ini.
Melembutkan hati. Demikianlah. Salam!